Senin, 10 Mei 2010

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

KAJIAN RIWAYAT GAYA HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI RUANG HEMODIALISA RUMAH SAKIT MILITER

MALANG

OLEH :

ENZO CAHYA AUGUSIANDONO

NIM.07.1.018

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN RS.Dr.SOEPRAOEN

MALANG

2010

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

KAJIAN RIWAYAT GAYA HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI RUANG HEMODIALISA RUMAH SAKIT MILITER

MALANG

Duajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh

Gelar Ahli Madya Keperawatan Pada Prodi Keperawatan

Politeknik Kesehatan RS.dr.Soepraoen

Malang

OLEH :

ENZO CAHYA AUGUSIANDONO

NIM.07.1.018

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN RS.Dr.SOEPRAOEN

MALANG

2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gagal Ginjal Kronik adalah penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam darah atau produksi urine (Bruner dan Suddarth, 2002).

Menurut waktu kejadiannya,gagal ginjal terbagi menjadi dua yaitu gagal ginjal akut, dan gagal ginjal kronis.Gagal ginjal kronis merupakan komplikasi dari sejumlah besar penyakit ginjal seperti infeksi ginjal, sumbatan karena batu ginjal, tingkat akhir keadaan ini adalah gagal ginjal dimana diperlukan dialisa atau cuci darah sementara menunggu adanya donor ginjal. Sedangkan gagal ginjal akut dapat ditandai dengan kehilangan fungsi ginjal yang cepat ditandai dengan kencing sedikit atau kurang dari 400 hingga 500 ml/hari, gangguan keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit.( Japaries, 2005: 70)

Kebiasaan merokok, alkoholoisme,diet tinggi lemak dan kurang sehat, obesitas, stress, narkoba, mengkonsumsi bahan-bahan pengawet (kimiawi), dan kehidupan seks bebas merupakan faktor terjadinya penyakit kronik modern.Membaiknya tingkat ekonomi dapat mengubah pola atau jenis makan seseorang.Banyak bukti menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup individu, baik dalam skala kecil maupun masyarakat secara lebih luas, dapat menurunkan angka kejadian penyakit kronis modern secara dratis.Mengubah pola hidup atau kebiasaan seseorang berarti harus mengubah cara pandang seseorang, mengubah paradigma seseorang.(Suharjo B. Cahyono, 2008 ; 18 )

Gaya hidup pasien GGK banyak di sebabkan oleh gaya hidup yang salah dengan menkonsumsi alkohol secara berlebihan,kurangnya istirahat&mengkonsumsi suplemen yang berlebihan.Dari berbagai macam penyakit yang ada sekarang ini, sumber akarnya tidak lain adalah pola hidup yang keliru,dan gagal ginjal merupakan salah satu penyakit yang banyak disebabkan karena gaya hidup yang salah.

Pada saat ini kasus gagal ginjal di dunia meningkat lebih dari 50 persen. Di Amerika Serikat yang merupakan negara yang sangat maju dengan tingkat gizi dan pengetahuan pola hidup sehat yang tinggi, setiap tahun ada sekitar 20 juta orang dewasa menderita penyakit ginjal kronis. Menurut sebuah survey dikatakan bahwa di Indonesia keadaannya lebih mengerikan lagi, diperkirakan kasus gagal ginjal meningkat mencapai sekitar 20 persen,jumlah penderita gagal ginjal di Indonesia mencapai 4.500 orang. Dari jumlah itu, banyak penderita yang meninggal dunia akibat tidak mampu berobat atau cuci darah (hemodialisa) karena biayanya sangat mahal (Mardiana Ulitra, 2008, http://www.info-kesehatan.com/Gagal-Ginjal_April.htm). Dari hasil studi pendahuluan di dapatkan bahwa di Rumah Sakit Militer Malang di dapatkan jumlah pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa 15-21 pasien per bulan, dalam sehari rata-rata dilakukan tindakan hemodialisa 4-8 pasien.

Sebagaimana diketahui bahwa karakter penyakit gagal ginjal merupakan penyakit yang sering tanpa keluhan sama sekali, namun ketika seseorang telah kehilangan 90 persen fungsi ginjalnya baru mulai merasakan keluhan. Oleh karena itu pasien sebaiknya waspada jika mengalami gejala-gejala seperti: tekanan darah tinggi, perubahan jumlah kencing, ada darah dalam air kencing, bengkak pada kaki dan pergelangan kaki, rasa lemah serta sulit tidur, sakit kepala, sesak, dan merasa mual dan muntah.

(http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0703/09/134538.htm)

akibatnya fungsi ginjal sebagai penyaring dan pembersih darah serta pembuang sisa-sisa metabolisme dari dalam darah ke dalam air seni pada akhirnya akan terganggu. Mula-mula gangguan itu tidak terasa, hanya dapat diketahui jika dilakukan pemeriksaan darah atau air seni laboratorium dan hasilnya ureum dan kreatinin meningkat disebabkan oleh gagalnya fungsi glomerulus sebagai penyaring dan mempertahankan zat-zat yang berguna dalam darah,serta protein,yang gagal membuang zat sisa serta zat beracun. Jika berlangsung lama maka sebagian besar ginjal sudah dirusaknya, fungsi ginjal membersihkan sisa-sisa metabolisme darah tidak lagi memadai. Akibatnya, sisa-sisa metabolisme tersebut (khususnya ureum, kreatinin) tertimbun dalam darah. Inilah yang disebut dengan keadaan gagal ginjal. Pada keadaan gagal ginjal kronik , sisa-sisa metabolisme dalam darah sudah tertimbun begitu banyak sehingga meracuni sel-sel dan organ-organ tubuh saperti jantung, otak, saraf, hati, dan pada akhirnya membawa kematian. (Willie Japaries, 2005:66)

Selain meracuni sel-sel maupun organ-organ,penyakit gagal ginjal juga dapat berdampak pada ketidakseimbangan pada seseorang yang mengidapnya yang meliputi biologi, psikologi, sosial dan spiritual pasien. Seperti, perilaku penolakan, marah, perasaan takut, cemas, rasa tidak berdaya, putus asa bahkan bunuh diri.Untuk itu diperlukan penanganan yang terpadu baik fisik maupun psikologis pasien. (Bruner dan Suddarth, 2002).

Pada saat ini yang harus dilakukan oleh setiap orang adalah program pencegahan. Pola hidup sehat seperti olah raga setiap hari diharapkan dapat mencegah kemungkinan tersebut. Itu juga perlu ditunjang dengan makanan yang sehat, tidak berlemak dan gizi berimbang. Sedangkan bagi orang dewasa yang telah berusia mulai 40 tahun tampaknya jangan ragu melakukan pemeriksaan rutin. Cek kesehatan itu menjadi penting untuk mengontrol fungsi organ dan tidak hanya ginjal.Bila melakukan cek kesehatan secara rutin tentu akan lebih dini diketahui jika memang ditemui ada sesuatu dengan keadaan ginjalnya.(Willie Japaries, 2005:66).Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang kajian riwayat gaya hidup pasien gagal ginjal kronik di ruang Hemodialisa R.S Tk II dr soepraoen Malang.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, maka penulis dapat merumuskan permasalahan sebagai berikut bagaimana gambaran gaya hidup pasien gagal ginjal kronik di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Militer Malang?.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui gambaran gaya hidup pasien gagal ginjal kronik di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Militer Malang.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Mengidentifikasi riwayat konsumsi makanan pasien gagal ginjal kronik

1.3.2.2 Mengidentifikasi riwayat konsumsi minuman pasien gagal ginjal kronik

1.3.2.3 Mengidentifikasi riwayat aktivitas / olahraga pasien gagal ginjal kronik

1.3.2.4 Mengidentifikasi riwayat konsumsi obat pasien gagal ginjal

1.3.2.5 Mengidentifikasi riwayat merokok pasien gagal ginjal

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Institusi

Memberi gambaran tentang riwayat pola hidup pasien gagal ginjal di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Militer Malang.

1.4.2 Bagi Masyarakat

Membantu masyarakat untuk mengetahui pola hidup sehat yang benar yang dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Dengan pola hidup sehat yang benar maka dapat memperkecil terjadinya kasus gagal ginjal kronik yang dapat menimbulkan kematian.

1.4.3 Bagi Peneliti selanjutnya

Hasil penelitian dapat dijadikan pertimbangan untuk mengembangkan penelitian mengenai riwayat gaya hidup modern pada pasien gagal ginjal kronik bagi penelitian lain.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Ginjal

2.1.1. Pengertian Ginjal

Ginjal merupakan bagian utama dari sistem saluran kemih yang terdiri atas organ-organ tubuh yang berfungsi memproduksi maupun menyalurkan air seni ke luar tubuh. (Willie Japaries, 2005: 01)

Ginjal menjalankan fungsi yang vital sebagai pengatur volume dan komposisi kimia darah (dan lingkungan dalam tubuh) dengan mengekskresikan zat terlarut dan air secara selektif. Apabila kedua ginjal karena sesuatu hal gagal menjalankan fungsinya, akan terjadi kematian dalam waktu3 sampai 4 minggu. Fungsi vital ginjal dicapai dengan filtrasi plasma darah melalui glomerolus diikuti dengan reabsorpsi sejumlah zat terlarut dan air dalam jumlah yang sesuai di sepanjang tubulus ginjal. Kelebihan zat terlarut dan air diekskresikan keluar tubuh dalam urine melalui sistem pengumpul urine. (Sylvia A. Price & Lorraine M. Wilson, 2006: 867)

2.1.2. Letak anatomi ginjal

Ginjal merupakan organ yang berpasangan dan setiap ginjal memiliki berat kurang lebih 125 g, terletak pada posisi di sebelah lateral vertebra torakalis bawah, beberapa sentimeter di sebelah kanan dan kiri garis tengah. Organ ini terbungkus oleh jaringan ikat tipis yang dikenal sebagai kapsula renis. Di sebelah anterior, ginjal dipisahkan dari kavum abdomen dan isinya oleh lapisan peritoneum. Di sebelah posterior, organ tersebut dilindungi oleh dinding toraks bawah. Darah dialirkan ke dalam setiap ginjal melalui arteri renalis dan keluar dari dalam ginjal melalui vena renalis. Arteri renalis berasal dari aorta abdominalis dan vena renalis membawa darah kembali ke dalam vena kava inferior. Ginjal dengan efisien dapat membersihkan bahan limbah dari dalam darah, dan fungsi ini bisa dilaksanakannya karena aliran darah yang melalui ginjal jumlahnya sangat besar, 25% dari curah jantung. (Bruner & Suddarth, 2002)

Organ ginjal berbentuk seperti dua kacang yang terletak dibelakang peritoneum pariental dapat sudut konstovertebral. Nefron merupakan unit fungsional dari ginjal dan tiap ginjal terdiri dari kira-kira satu juta unit nefron. Struktur dari nefron berperan dalam proses pembentukan urin., terdiri dari glomerolus yang berada dalam kapsula Bowman, tubulus yang berbelok-belok pada bagian proksimal, gelung Henle, dan saluran yang berbelok-belok pada bagian distal dan tubulus-tubulus tempat penampung. Kapsul Bowman dan tubulus yang berbelok-belok berada pada kortek dari ginjal, sedangkan tubulus Henle dan tubulus penampung berada pada bagian medula. Urine dari tubulus penampung yang banyak itu mengalir ke tubulus yang lebih besar yang membentuk piramid pada medula, kemudian urine mengalir ke pelvis renalis. (C. Long, 2006).

2.1.3. Fungsi Ginjal

2.1.3.1 Ultrafiltrasi

Ultrafiltrasi adalah membuang volume cairan dari darah sirkulasi, bahan-bahan yang terlarut dalam cairan juga terbuang. Ultrafiltrasi yang berasal dari kapiler-kapiler glomerolus (filtrasi glomerular) kira-kira 180 L/hari. Jumlah filtrasi dalam suatu waktu yang ditentukan disebut angka kecepatan fitrasi glomerular (GFR glomerular filtration rate). GFR pada rata-rata ukuran badan orang kira-kira 125 ml/menit (7.5 L/jam) atau sama dalam satu hari kira-kira 60 kali volume plasma.

Ginjal mendapat 25% dari output kardiak, dan arus darah dalam ginjal rata-rata 600ml/menit. Suplai darah tersebut kepada ginjal merupakan dasar untuk terjadinya filtrasi glomerular, atau permulaan air seni, dan merupakan suplai nutrisi dan respirasi dari sel-sel ginjal. Masalah yang parah dan berkepanjangan mengenai kesinambungan output kardiak dan perfusi ginjal pengaruhnya sangat besar terhadap pembentukan urin dan kemungkinan dapat hidup sel-sel yang bertanggung jawab atas kelestarian konsistensi lingkungan internal.

Setelah melalui serangkaian arteri yang makin lama menjadi makin kecil, darah masuk ke arteriole aferen yang terus bercabang menjadi kapiler glomerular. Glomerolus yang terdapat pada kapsul bowman, merupakan bagian fungsional pertama dari nefron. Bila darah memasuki kapiler-kapiler glomerolus dengan tekanan yang tidak kurang dari 60-70 mmHg, akan membentuk plasma yang tidak tersaring. Yang tidak terfiltrasi (air seni primitif) mengandung konsentrasi elemen-elemen plasma yang dikurangi protein. Yang tidak terfiltrasi ini kemudian lewat melalui sisa nefron untuk modifikasi menjadi urin yang aktual.

2.1.3.2 Pengendalian Cairan dan Elektrolit

Jika bukan karena adanya sistem konservasi dari ginjal, orang akan kehabisan cairan dan garam dalam waktu 3 sampai 4 menit. Dehidrasi masih bisa terjadi, bila tubuh tidak memiliki mekanisme tambahan pada ginjal untuk konservasi air yang telah difilter.

Ginjal dapat mengatur jumlah cairan yang diekskresikan dengan tepat sehingga intake yang melebihi kebutuhan keseimbangan normal diekskresikan bila intake dibawah yang diperlukan untuk keseimbangan cairan normal melalui peningkatan kosentrasi urine. Mekanisme yang berperan untuk peningkatan kosentrasi urine dan ketepatan mengekskresi volume urin yang tepat terdapat pada tubulus henle dan bagian distal dari tubulus yang berbelok-belok dan pada tubulus penampung.

2.1.3.3 Ekskresi produk sisa / ampas

Sisa-sisa metabolik diekskresi pada filtrasi glomerolus. Kreatinin sedikit mengalami modifikasi lewat melalui nefron, kreatinin yang terkandung pada filtrasi glomerolus diekskresikan tanpa perubahan dalam urin. Produk-produk sisa lain seperti ureum, diekskresikan tanpa perubahan pada filtrasi glomerolus tapi mengalami reabsorbsi pada waktu pasase melalui nefron. Jumlah produk sisa yang diekskresikan didalam urin sedemikian hanya fraksi yang asli terkandung pada filtrasi glomerolus.

Ekskresi bahan obat-obatan oleh ginjal terjadi baik oleh filtrasi pada tingkat glomerolus dan sekresi ke dalam urin oleh sel-sel tubulus distal. Diantaranya penicilin merupakan bahan yang diekskresikan oleh sel-sel tubulus. (C. Long, 2006)

2.1.3.4 Pengaturan tekanan darah

Pengaturan tekanan darah oleh ginjal dikendalikan oleh sistem renin-angiotensin-aldosteron. Renin adalah hormon yang dikeluarkan oleh jukstaglomeruler apparatus (yang berhubungan dengan glomerolus) sebagai respon terhadap berkurangnya sodium, atau terhadap stimulus saraf ginjal melalui jalur simpati. Angiotensinogen yang dihasilkan oleh hati dilakukan oleh angiotensin I pada waktu terdapatnya renin. Enzim pada paru-paru mengubah angiotensin I menjadi bahan aktif angiotensin II. Angiotensin II merupakan vasokontriktor yang sangat kuat yang juga merangsang dikeluarkannya aldosteron yang dikeluarkan oleh kelenjar adrenal.

Aldosteron meningkatkan reabsorbsi sodium oleh ginjal, air mengikuti sodium, berdampak peningkatan volume darah. GFR yang rendah terlihat pada penyakit ginjal (seperti glomerolunefritis, nephrotic, trauma renal, kegagalan ginjal dan lain lain) biasanya dapat menyebabkan hipertensi akibatnya dapat mengakibatkan aktifnya sistem renin-angiotensin-aldosteron. (Bruner & Suddarth, 2002).

2.1.3.5 Pengaturan metabolisme kalsium-fosfat

Metabolisme kalsium-fosfat juga dikendalikan oleh ginjal. Vitamin D prohormon diubah menjadi bentuk aktif oleh ginjal, vitamin D aktif bukan hanya mengatur absorbsi kalsium oleh alat pencernaan tapi juga penyimpanan pada matrix tulang, demikian juga metabolisme kalsium dan phospor. (C. Long, 2006)

Gambaran tanda-tanda dan gejala-gejala belum bisa dijelaskan pada pasien dengan kegagalan ginjal menahun. Hal tersebut menyadarkan kita bahwa masih terdapat beberapa fungsi ginjal yang belum diketahui. Oleh karena hal tersebut nefrologi masih tetap menjadi bidang pertanyaan untuk riset.

2.2 Konsep Gagal Ginjal Kronik

2.2.1 Pengertian Gagal Ginjal Kronik

Gagal ginjal adalah ketidak mampuan ginjal untuk mengerjakan fungsinya. Total atau hampir total ginjal tidak mampu membuang produk sisa, mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit (termasuk keseimbangan asam dan basa), serta tidak mampu mengendalikan tekanan darah. Orang dengan kegagalan ginjal tidak akan mampu mempertahankan hidup mandiri. (C. Long, 2006)

Menurut waktu kejadiannya, gagal ginjal dapat dibedakan menjadi 2 golongan yaitu gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronis. Gagal ginjal kronis adalah gagalnya fungsi ginjal yang terjadi perlahan-lahan dalam jangka lama atau menahun. (Willie Japaries,2005;67)

Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat persisten dan ireversibel. Gangguan fungsi ginjal adalah penurunan laju glomerolus yang dapat digolongkan ringan, sedang, berat. Azotemia adalah peningkatan BUN dan ditegakkan bila kosentrasi ureum plasma meningkat. Uremia adalah sindrom akibat gagal ginjal yang berat. (Arief Mansjoer, 2001; 531)

2.2.2 Penyebab Gagal Ginjal

Adapun klasifikasi penyebab gagal ginjal kronik diantaranya :

2.2.2.1 Penyakit Infeksi Tubulointerstinal

a. Infeksi Traktus Urinarius

b. Pielonefritis

c. Nefropati Refluks

2.2.2.2 Penyakit Peradangan

a. Glomerulonefritis

2.2.2.3 Penyakit Vaskular Hipertensif

a. Nefrosklerosis benigna

b. Nefrosklerosis maligna

c. Stenosis arteri renalis

2.2.2.4 Gangguan Jaringan Ikat

a. Lupus eritematosus sistemik

b. Poliarterisis nodosa

c. Sklerosis sistemik progesif

2.2.2.5 Gangguan Kongenital dan Herediter

a. Penyakit ginjal polikistik

b. Asidosis tubulus ginjal

2.2.2.6 Penyakit Metabolik

a. Diabetus Militus

b. Gout

c. Hiperparatiroidisme

d. Amiloidosis

2.2.2.7 Nefropati Toksik

a. Penyalahgunaan analgesik

b. Nefropati timah

2.2.2.8 Nefropati Obstruktif

a. Traktus Urinarius bagian atas : batu, neoplasma,fibrosis retroperitoneal.

b. Traktus Urinarius bagian bawah : hipertrofi prostat, striktur uretra, anomali kongenital leher vesika urinaria dan uretra.

Terjadinya gagal ginjal disebabkan oleh beberapa penyakit serius yang diderita oleh tubuh yang mana secara perlahan-lahan berdampak pada kerusakan organ ginjal. Penderita gagal ginjal berada pada kisaran usia 50 tahun yang masih termasuk dalam usia produktif. Pada usia lanjut, gagal ginjal umumnya terjadi karena komplikasi dari :

1. Diabetes Militus

Hari demi hari kasus DM akan semakin meningkat. Saat ini tidak kurang dari 194 juta penduduk dunia berusia 20-79 tahun menderita DM. Berdasarkan pola pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 2020 diperkirakan ada 8,2 juta pasien DM dengan asumsi prevalensi penyakit diabetes militus di Indonesia sebesar 4.6 % dari total 175 juta penduduk berusia di atas 20 tahun. Tingginya kasus DM lebih merupakan konsekuensi dari kemakmuran dan perubahan sosial budaya yang sangat cepat, pertambahan jumlah penduduk usia lanjut, peningkatan urbanisasi, perubahan pola makan, pengurangan aktivitas fisik, dan meningkatnya angka kegemukan. ( Suharjo B. Cahyono, 2008 ; 58 )

Seorang diabetisi harus lebih waspada ketika mereka memasuki usia pertengahan karena komplikasi pada ginjal sering terjadi pada usia ini. Ketika kebutuhan protein sudah berkurang karena tidak adanya pertumbuhan, diabetisi tersebut harus pula menyesuaikan konsumsi proteinnya agar tidak membebani ginjal mengingat zat sisa metabolisme protein adalah ureum, kreatini, dan asam urat.

2. Hipertensi

Tekanan darah dalam sehari secara alami akan naik dan turun sesuai kondisi tubuh dan aktivitas setiap orang. Bila dalam rentang waktu lebih panjang tekanannya tetap tinggi, maka disebut tekanan darah tinggi.. Untuk menyatakan seseorang menderita tekanan darah tinggi, perlu dilakukan bebrapa pemeriksaan sebelum dokter mendiagnosis hasilnya.

Walaupun hipertensi tidak dapat disembuhkan, tetapi hipertensi dapat ditangani dan dikontrol. Untuk mengetahui langkah-langkah yang dilakukan, penderita harus berkonsultasi dengan dokter dan melakukan pengecekan tekanan darah secara teratur. Jangan membiarkan tekanan darah tetap tinggi tanpa ada penanganan karena dapat menyebabkan kerusakan organ-organ vital seperti jantung, ginjal, otak, mata, dan pembuluh darah. ( Suharjo B. Cahyono, 2008 ; 94 )

2.2.3 Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala yang sering timbul pada pasien gagal ginjal adalah

2.2.3.1 Fisik

Lemah, mudah lelah, napas pendek, sakit kepala, gangguan penglihatan, tidak nafsu makan, mual dan muntah. Kulit mungkin berwarna kuning coklat, gatal, dan ada kalanya ditemukan kristal urea (berbau pesing) di kulitnya. Produksi air seni berlebihan, sehingga harus kencing di malam hari (nokturia). Berat badan menurun, pucat akibat kekurangan darah, pertumbuhan terhambat, tekanan darah tinggi, gagal jantung dan penderita juga mudah terkena infeksi karena daya tahan tubuhnya merosot (Willie Japaries, 2005).

2.2.3.2 Pemeriksaan Lab

Bila diperiksa air seninya ternyata berat jenis dari air seni tersebut sangat rendah dan tidak mampu menjadi lebih pekat/kental. Juga dapat ditemukan sel darah merah, sel darah putih, protein di dalam air seninya, yang kesemuanya menunjukkan adanya kelainan ginjal.(Willie Japaries, 2005)

Pada klien gagal ginjal dalam pemeriksaan darah terdapat peningkatan BUN dan Kreatinin.laju peningkatan tersebut disebabkan oleh tingkat katabolisme(pemecahan protein),perfusi renal,dan masukan protein.Sedangkan serum kretinin meningkat disebabkan pada kerusakan fungsi glomerulus.

Tidak hanya itu pada klien gagal ginjal dalam pemeriksaan laboratorium juga mengalami Hiperkalemia,Asidosis Metabolik,Abnormalitas Ca dan PO4,dan Anemia.Ke semua itu disebabkan oleh kegagalan mekanisme pengaturan ginjal. (Bruner & Suddarth, 2002).

2.2.4 Penatalaksanan

Pada intinya, tujuan pengobatan adalah untuk mengendalikan gejala, meminimalkan komplikasi dan memperlambat perkembangan penyakit. Yang harus diperhatikan dalam penatalaksanan pasien gagal ginjal adalah :

2.2.4.1 Menentukan penyebab

Penyebab gagal ginjal yang utama adalah diabetes, yang kurang lebih merupakan sekitar 40 persen atau lebih penyebab gagal ginjal. Penyebab gagal ginjal yang kedua adalah tekanan darah tinggi, yang bertanggung jawab terhadap sekitar 25 persen dari penyakit gagal ginjal.

2.2.4.2 Optimalisasi dan mempertahankan keseimbangan cairan dan garam

Kelebihan beban cairan dan garam dalam tubuh dapat dibantu pengeluarannya dengan obat pemacu kencing (diuretik), selain membatasi makanan asin atau banyak garamnya, termasuk makanan awetan yang banyak mengandung vetsin (vetsin juga mengandung natrium).

2.2.4.3 Diit rendah protein

Protein di dalam tubuh berfungsi sebagai zat pembangun daripada sebagai sumber energi. Akan tetapi, jika asupannya berlebihan, maka protein akan diuraikan untuk digunakan sebagai sumber energi dan konsekuensinya protein itu akan membebaskan sejumlah nitrogen yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh sebagai ureum. Jadi ureum, merupakan senyawa yang digunakan tubuh untuk mengeluarkan kelebihan nitrogen lewat ginjal. Pada orang gagal ginjal, kemampuan ginjal untuk melakukan hal ini sudah sangat menurun atau mungkin tidak ada. Dengan demikian, tindakan yang dapat kita lakukan untuk mengurangi produksi ureum tubuh adalah mengurangi asupan protei dari makanan. ( Suharjo B. Cahyono, 2008 ; 58 )

2.2.4.4 Kontrol keseimbangan elektrolit

Pada pasien gagal ginjal, pasien tersebut harus rajin mengontrol kadar keseimbangan elektrolit. Karena bila kadar elektrolit seperti natrium, kalium, dan fosfor terjadi penurunan atau peningkatan yang berlebih maka akan menimbulkan suatu komplikasi yang berbahaya. Penurunan kadar natrium dalam darah pada pasien gagal ginjal akan mengakibatkan rasa cepat lelah, mual, dan mulut yang kering sedangkan peningkatan kadar kalium dalam darah akan mempengaruhi otot jantung yang dapat mengganggu irama jantung.

2.2.4.5 Deteksi dan terapi komplikasi

Observasi dengan ketat kemungkinan encelopati uremia, perikarditis, neuropati perifer hiperkalemia yang meningkat dan kelebihan cairan sehingga diperlukan untuk dialisis.

2.2.4.6 Dialisis

Cuci darah berfungsi menggantikan atau membantu kerja ginjal yang sudah kepayahan. Jadi, cuci darah diperlukan pada penderita gagal ginjal mendadak maupun menahun.

2.2.4.7 Transplantasi ginjal

Bila tersedia donor organ dan fasilitasnya, serta kondisi penderita memungkinkan, dapat dilakukan pencangkokan ginjal. (Arief mansjoer,2001)

2.3 Konsep Gaya Hidup Sehat

Sehat sampai akhir hayat merupakan suatu dambaan semua orang selama hidup di dunia, upaya pemeliharaan kesehatan taka akan berhasil jika tidak ada perubahan sikap mental dan perilaku. Dari berbagai macam penyakit yang ada sekarang ini, sumber akarnya tidak lain adalah pola hidup yang keliru. Bila kita menjalani pola hidup yang sehat dan benar, penyakit akan jauh dari kita.

Manusia merupakan satu kesatuan yang utuh antara jasmani, rohani dan mental yang saling keterkaitan yang tak dapat dipisahkan, dengan kata lain apa yang mempengaruhi pikiran, akan mempengarui tubuh. Kondisi kerohanian mempunyai pengaruh pada keadaan fisik dan begitu pula sebaliknya. Sebagai contoh dari peneliti-peneliti ilmu pengetahuan bahwa kebahagian dan tawa yang penuh kesenangan menghasilkan suatu perubahan yang besar dalam system kekebalan tubuh.

2.3.1 Konsep Perilaku

Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003).

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003) :

1. Perilaku tertutup (convert behavior)

Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (convert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.

2. Perilaku terbuka (overt behavior)

Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehaan dan berperan akif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. (Depkes, 2006).Dari batasan ini, perilaku kesehatan masyarakat dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok :

1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance).

Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.

2. Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, atau sering disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior).

Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan.

3. Perilaku kesehatan lingkungan

Adalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya.

2.3.2 Determinasi Terbentuknya Perilaku

Menurut Spranger membagi kepribadian manusia menjadi 6 macam nilai kebudayaan. Kepribadian seseorang ditentukan oleh salah satu nilai budaya yang dominan pada diri orang tersebut. Secara rinci perilaku manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan, keinginan, kehendak, minat, motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya.tetapi beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkap faktor penentu yang dapat mempengaruhi perilaku khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, antara lain:

1. Teori Lawrence Green (1980)

Green mencoba menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat kesehatan. Bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu faktor perilaku (behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non behavior causes).

Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh :

1) Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.

2) Faktor pendukung (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat steril dan sebagainya.

3) Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

2. Teori Snehandu B. Kar (1983)

Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan bertitik tolak bahwa perilaku merupakan fungsi dari :

1) Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatannya (behavior itention).

2) Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support).

3) Adanya atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accesebility of information).

4) Otonomi pribadi orang yang bersangkutan dalam hal mengambil tindakan atau keputusan (personal autonomy).

5) Situasi yang memungkinkan untuk bertindak (action situation).

3. Teori WHO (1984)

WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berperilaku tertentu adalah : Pemikiran dan perasaan (thougts and feeling), yaitu dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian seseorang terhadap objek (objek kesehatan).

(1) Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain.

(2) Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang tua, kakek, atau nenek. Seseorang menerima kepercayaan berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.

(3) Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain yang paling dekat. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain. Sikap positif terhadap tindakan-tindakan kesehatan tidak selalu terwujud didalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu, sikap akan diikuti oleh tindakan mengacu kepada pengalaman orang lain, sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasar pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang.

Dari bermacam teori tersebut,Pola hidup sehatlah yang sangat diharapkan karena segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindari kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. Kesehatan bukanlah segala-galanya namun segala-galanya tanpa kesehatan tidak ada artinya. Bahkan kesehatan merupakan investasi, hak dan kewajiban setiap manusia.

Gaya hidup sehat memiliki banyak komponen. Tetapi secara umum meliputi beberapa factor, antara lain : Istirahat yang cukup dan teratur, mengkonsumsi makanan yang sehat secara teratur dan seimbang, mempertahankan berat badan ideal, melakukan latihan fisik secara teratur, benar, terukur dan berkesinambungan, berpandangan positif dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutindan teratur.

2.3.3 Faktor penghalang dalam mencapai hidup sehat

Pola perilaku ( behavioral patterns) akan selalu berbeda dalam situasi dan lingkungan social yang berbeda, dan senantiasa berubah, tidak ada yang menetap. Gaya hidup individu, yang dicirikan dengan pola perilaku individu, akan memberikan dampak pada kesehatan individu dan selanjutnya pada kesehatan orang lain. Dalam kesehatan, gaya hidup seseorang dapat diubah dengan cara memberdayakan individu agar merubah gaya hidupnya, tetapi merubahnya bukan pada individu saja, tetapi juaga merubah lingkungan sosial dan kondisi kehidupan yang mempengaruhi pola prilakunya.

Perubahan gaya hidup masyarakat, berjalan seiring pertumbuhan ekonomi, sosial budaya teknologi yang gejala negatifnya sudah banyak dirasakan saat sekarang ini, seperti kuranggerak secara fisik, perilaku merokok, napza, minuman keras, gizi lebih, kurang sayur, kurang istirahat dan lain-lain. (Dedi fardian, 2007)

2.3.1.1 Kebiasaan merokok

Sesuai dengan survey Sosial Ekonomi Nasional ( SUSENAS ) 2004, merokok dimulai pada remaja umur 10 tahun, dan pada umur 15 sampai 19 tahun menduduki pada angka 60 % sebagai perokok, 91 % para perokok mempunyai kebiasan merokok dirumah. Pada saat ini terdapat sekurang-kuarangnya 43 juta kaum ibu dan anak-anak yang terpapar asap rokok sebagai perokok pasif yang dapat menjadi factor resiko penyakit tidak menular ( PTM ) lainya. ( Ahyar, 2009 )

Dan rokok merupakan penyebab kematian dini yang sebenarnya dapat di cegah.Penyebab kematian utama yang di sebabkan karena rokok adalah : Penyakit jantung (1,69 juta kematian), penyakit paru obstruktif kronis (0,97 juta kematian),dan kanker paru (0,85 juta kematian).Sekitar 90% kanker paru berhubungan dengan kebiasaan merokok.Jenis penyakit kanker lain yang bisa terkait dengan rokok adalah kanker kantong kemih,ginjal,kanker leher rahim,kanker esofagus,dan kanker pankreas.

Bahaya merokok terhadap kesehatan tubuh telah diteliti dan dibuktikan oleh banyak orang. Efek-efek yang merugikan akibat merokok pun sudah diketahui dengan jelas.

Paling tidak ada lima hal yang membuat kebiasaan merokok sulit di berantas yakni sebagai berikut.

1. Kebiasaan merokok sudah menjadi tradisi, membudaya sejak jaman dahulu

2. Merokok adalah hak asasi seseorang dan dianggap tidak melanggar hukum karena memang merokok tidak menggangu ketertiban umum, mungkin hanya melanggar etika pergaulan.

3. Rokok bersifat adiktif. Sebenarnya tidak ada bedanya antara nikotin yang terkandung dalam tembakau dan ganja atau heroin. Semuanya memberikan efek kenikmatan dan ketergantungan. Bedanya efek nikotin tidak memberikkan gangguan kesadaran, kontrol diri,dan konsentrasi sehingga tidak dilarang pemakaiannya.Tetapi ganja dan heroin dapat menimbulkan efek selanjutnya dan dapat mengganggu ketertiban umum.Banyak perokok menyadari resiko merokok tetepi setiap ingin berhenti umumnya tindakannya gagal. Semua ini akibat nikotin bersifat adiktif.

4. Berkaitan dengan kepentingan pemerintah.banyak negara menerapkan standar ganda dalam menanggulangi masalah rokok. Satu sisi pemerintah menyadari bahwa merokok dapat menimbulkan kesakitan, kematian prematur, dan hilangnya hari kerja.Tetapi sisi lain dari proses penanaman tembakau sampai produksi dan penjualan rokok dapat menyerap banyak tenaga kerja dan sebagai pemasukkan bagi negara. Bahkan tidak kurang di Amerika sendiri industri rokok merupakan sponsor terpenting berbagai kampanye politik.

5. Faktor iklan rokok.WHO sendiri menyatakan bahwa iklan rokok dalam film dan telivisi menimbulkan problem yang besar karena cara ini merupakan kekuatan promosi yang dahsyat,yang bukan saja mendorong anak-anak untuk mulai merokok tetapi juga membantu menguatkan pemasaran industri rokok.

2.3.1.2 Kurang gerak fisik (Inaktivitas )

Gaya hidup sedentarial yang ditandai banyak duduk, dan kurang aktivitas fisik meningkatkan resiko munculnya penyakit kronik modern. Kurang gerak dan konsumsi tinggi lemak memudahkan terjadinya obesitas. Pada umumnya, obesitas tidak berdiri sendiri, obesitas sangat dekat dengan peningkatan kadar lemah darah, hipertensi, dan diabetes militus. ( Suharjo B. Cahyono, 2008 ; 20 )

Kurangnya aktivitas juga ikut memicu obesitas. Berbagai kemajuan teknologi seperti kemunculan elevator, remote control membuat aktivitas orang makin terbatas, alat-alat tersebut juga membuat seseorang cenderung malas. Ketidak seimbangan antara aktivitas dengan pola asupan yang masuk dalam tubuh itulah yang memicu terjadinya kelebihan berat badan pada kebanyakan manusia modern. ( Depkes, 2009)

Tingkat pengeluaran energi tubuh sangat peka terhadap pengendalian berat badan tubuh. Pengeluaran energi tergantung pada dua faktor. Pertama, tingkat aktivitas dan olahraga secara umum. Kedua, angka metabolisme basal atau tingkat energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi minimal tubuh. Dari kedua faktor tersebut, metabolisme basal memiliki tanggung jawab dua pertiga dari pengeluaran energi orang normal. Meskipun aktivitas fisik hanya mempengaruhi satu pertiga pengeluaran energi seseorang dengan berat badan normal, tetapi bagi orang yang memiliki kelebihan berat badan, aktivitas fisik memiliki peran sangat penting. Pada saat berolah raga kalori terbakar dan makin banyak berolah raga maka semakin banyak kalori yang hilang. Kalori secara tidak langsung mempengaruhi sistem metabolisme basal. Orang yang duduk bekerja seharian akan mengalami penurunan metabolisme basal tubuhnya. Kekurangan aktivitas gerak akan menyebabkan suatu siklus metabolisme basal tubuh yang hebat. Jadi, olah raga sangat penting dalam penurunan berat badan tidak saja karena dapat membakar kalori, melainkan juga karena dapat membantu mengatur berfungsinya metabolisme normal. ( Suharjo B. Cahyono, 2008 ; 71 )

2.3.1.3 Pola makan tidak sehat

Membaiknya tingkat ekonomi dapat mengubah pola atau jenis makan seseorang. Di negara-negara maju rata-rata masyarakat mengkonsumsi kolesterol 750 mg/hari atau setara ¾ kg daging. Pola makanan fast-food yang berlemak tinggi, tinggi karbohidrat dan kalori, saat ini lebih digemari dan lebih bergengsi dibandingkan makanan tradisional yang lebih menyehatkan.Booth FW (2002) dalam laporannya yng di muat dalam President`s council on physical fitness and sport washington,DC menuliskan bawa musuh dalam selimut yang menyebabkan menigkatnya penyakit modern dalah sedentary living.Gaya hidup sedentarial yang di tandai dengan banyak duduk dan kurang aktivitas fisik meningkatkan resiko munculnya penyakit kronik modern.Kurang gerak dan konsumsi tinggi lemakmemudahkan tradinya obesitas .Pada umumnya,obesitas tiadk berdiri sendiri,ia sangat dekat dengan pningkatan kadar lemak darah,hiprteni,dan diabetes melistus.

2.3.2 Gaya Hidup yang Dapat Menyebabkan Gagal Ginjal

2.3.2.1 Minum air dengan jumlah sedikit

Minum air sangat sedikit juga dapat menyebabkan kerusakan organ ginjal karena pasokan cairan ke ginjal kita akan sangat berkurang, sehingga ginjal menjadi tidak dapat berfungsi dengan baik.

Minumlah sebanyak kurang lebih 1,5-2 L air dalam sehari, minum banyak tentu akan menyebabkan sering buang air kecil yang akan membuang banyak kotoran dan racun dari ginjal. Namun, perlu diperhatikan pula kualitas air yang diminum harus bersih dan sehat, artinya jernih, bebas kuman, serta tidak mengandung elektrolit berlebihan ataupun logam berat yang membahayakan tubuh. (Alief Laguliga, 2009)

  1. Diet yang tidak seimbang dan tidak sehat

Diet tinggi protein dapat menyebabkan ginjal menjadi rusak. Protein di dalam tubuh berfungsi sebagai zat pembangun daripada sebagai sumber energi. Akan tetapi, jika asupannya berlebihan, maka protein akan diuraikan untuk digunakan sebagai sumber energi dan konsekuensinya protein itu akan membebaskan sejumlah nitrogen yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh sebagai ureum. Jadi ureum, merupakan senyawa yang digunakan tubuh untuk mengeluarkan kelebihan nitrogen lewat ginjal. Pada orang gagal ginjal, kemampuan ginjal untuk melakukan hal ini sudah sangat menurun atau mungkin tidak ada. Dengan demikian, tindakan yang dapat kita lakukan untuk mengurangi produksi ureum tubuh adalah mengurangi asupan protei dari makanan.( Suharjo B. Cahyono, 2008 ; 58 )

Beberapa makanan di Indonesia yang sering ditemukan dimasyarakat umum di antaranya jeroan dan jengkol. Kandungan asam urat yang tinggi dalam jeroan akan dapat menyebabkan sumbatan kristal asam urat dalam ginjal. Jengkol merupakan makanan khas Indonesia yang banyak dikonsumsi masyarakat, namun dalam keadaan tertentu asam jengkolat akan membentuk kristal dan mengendap di ginjal yang akhirnya akan menimbulkan sumbatan. Penderita jengkoleun biasanya akan mengeluh kesakitan luar biasa dengan kencing yang berdarah.(Alief Laguliga, 2009)

  1. Mengkonsumsi obat bebas dan tanpa konsultasi ke dokter.

Mengonsumsi obat-obatan, terutama obat bebas, harus di perhatikan indikasi pemakaian, kemasan, kedaluwarsa, keaslian obat tersebut, dosis obat. Penting diperhatikan pula, penyakit dasar yang telah diderita (kencing manis, hipertensi, jantung, tiroid, asma, dsb.). Minum obat antinyeri setiap hari untuk jangka waktu yang lama (beberapa tahun), dapat menyebabkan penyakit ginjal kronik, sehingga perlu berkonsultasi dengan dokter ahli untuk meyakinkan bahwa hal tersebut tidak akan merusak ginjal. (Alief Laguliga, 2009)

  1. Memakai beberapa bahan kimia.

Setiap kali menghirup asap rokok, walaupun disengaja atau tidak, berarti juga mengisap lebih dari 4.000 macam racun. Karena itu, merokok sama dengan memasukkan racun-racun tadi ke dalam rongga mulut dan tentunya paru-paru. Merokok mengganggu kesehatan, kenyataan ini tidak dapat dipungkiri. Banyak penyakit telah terbukti menjadi akibat buruk merokok, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebiasaan merokok bukan saja merugikan perokok, tetapi juga bagi orang di sekitarnya.

Saat ini jumlah perokok, terutama perokok remaja terus bertambah, khususnya di negara-negara berkembang. Keadaan ini merupakan tantangan berat bagi upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Bahkan organisasi kesehatan sedunia (WHO) telah memberikan peringatan bahwa dalam dekade 2020-2030 tembakau akan membunuh 10 juta orang per tahun, 70% di antaranya terjadi di negara-negara berkembang. Bahaya merokok terhadap kesehatan tubuh telah diteliti dan dibuktikan oleh banyak orang. Efek-efek yang merugikan akibat merokok pun sudah diketahui dengan jelas. Banyak penelitian membuktikan bahwa kebiasaan merokok meningkatkan risiko timbulnya berbagai penyakit. Seperti penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah, kanker paru-paru, kanker rongga mulut, kanker laring, kanker osefagus, bronkhitis, tekanan darah tinggi, impotensi, serta gangguan kehamilan dan cacat pada janin.

Perokok berat sangat berisiko terkena penyakit ginjal. Perokok berat berisiko enam kali lebih besar untuk gagal ginjal terminal (GGT), daripada orang yang tidak merokok. Asap rokok dan kandungan racun didalam rokok, mampu meningkatkan oksidatif stres yang menyebabkan terbakarnya pembuluh darah. Kadar nikotin dalam dua batang rokok yang dihisap, memicu tekanan darah dan naik sebesar 20 ml/hg.Oksidatif stres adalah kerusakan jaringan akibat kadar oksidan lebih tinggi dari kadar anti oksidan dalam tubuh. Secara bertahap para perokok berat dapat mengalami hipertensi. Bila hipertensi itu terjadi terus-menerus, maka akan terjadi oksidatif stres yang berbahaya. Kalau dibiarkan terus, maka hal tersebut berisiko menjadi gagal ginjal terminal (GGT). ( Ahyar, 2009)

Gaya hidup yang tidak sehat

  1. Riwayat konsumsi Makan ex:Diet yang tidak seimbang dan tidak shat
  2. Riwayat konsumsi Minum ex:minum air dalam jumlah sedikit kurang dari 1,5-2L
  3. Riwayat Aktivitas/olahraga ex:kurangnya aktivitas / olahraga
  4. Riwayat Konsumsi Obat ex:Mengkonsumsi obat bebas tanpa konsultasi dokter
  5. Riwayat Merokok


Gejala gagal ginjal kronik

- anoreksia

- TD tinggi

- Hematuri

- Lethargi

- Bengkak pada ekstrimitas

- Kadar ureum dan kreatinin dalam darah darah darah meningkat

Penyebab Gagal Ginjal Kronik

- Penyakit Infeksi Tubulointerstinal

- Penyakit Peradangan

- Penyakit Vaskular Hipertensif

- Gangguan jaringan ikat

- Penyakit Metabolik

- Nefropati toksik

- Nefropatobstruktif


Penetalaksanaan pasien gagal ginjal kronik

- Dialisis

- Penanganan hiipekalemia

- Mempertahankan keseimbangan cairan

- transplantasi ginjal

Pasien Gagal ginjal kronik


Keterangan :

: Yang tidak diteliti

: Yang diteliti

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif. Penilitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif (Nursalam, 2005).

Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengkaji riwayat pola hidup pasien gagal ginjal kronik di Ruang HD RS TK II Dr.Soepraoen Malang.

3.2 Kerangka Kerja Penelitian

Kerangka kerja merupakan bagan kerja terhadap rancangan kegiatan penelitian yang akan dilakukan, siapa saja yang akan diteliti (subyek penelitian), variabel yang akan diteliti dan variabel yang mempengaruhi dalam penelitian (Alimul, 2003).


Hasil

Penyajian Data

Kesimpulann

Identifikasi variable :

Riwayat pola hidup pasien gagal ginjal kronik

Pengukuran Kusioner

Analisa Data :

Dengan menggunakan hasil prosentase

Teknik sampling :

total sampling

Populasi :

Seluruh pasien gagal ginjal kronik di Ruang HD RS Militer Malang dengan jumlah 25 orang

Sampel :

Seluruh pasien gagal ginjal

kronik kronik di ruang HD RS

Militer Malang dengan jumlah 25 orang



3.3 Sampling Desain

3.3.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek/subyek yang mempunyai kualitas atau karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono, 2006: 72).

Populasi dalam penelitian ini adalah pasien gagal ginjal kronik yang akan dilakukan di Ruang HD RS Militer Malang dengan jumlah 25 orang.

3.3.2 Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang akan diteliti (Akunto, 2005 : 117).Pada penelitian yang diambil sebagai adalah pasien gagal ginjal kronik. Dan dalam penelitian ini sampel yang diambil adalah semua pasien yang berobat di Ruang HD RS TK II Dr.Soepraoen Malang.

3.3.3 Sampling

Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk mewakili populasi tersebut (Nursalam, 2003: 97). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling. Bila jumlah populasi kurang dari seratus maka pengambilan adalah total total keseluruhan jumlah populasi (Arikunto, 2005).

Sedangkan teknik sampling adalah cara-cara yang ditempuh dalam pengambilan sampel agar memperoleh sampel yang sesuai dengan keseluruhan subyek peneliti (Nursalam, 2003 : 97).

Teknik sampling penelitian ini menggunakan total sampling, dimana semua populasi diambil sebagai sampel dalam penelitian.

3.4 Identifikasi Variabel

Identifikasi variabel merupakan bagian penelitian dengan cara menentukan variabel-variabel yang ada dalam penelitian (Alimul, 2003: 37).

Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu (benda, manusia, dll). (Nursalam, 2003: 102).

Sedangkan dalam penelitian ini, variabel yang diteliti adalah riwayat pola hidup pasien gagal ginjal.

3.5 Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam, 2003: 104). Skala Guttman adalah skala pengukuran yang dilakukan untuk mendapatkan jawaban yang tegas yaitu “ya atau tidak”, “benar atau salah”, “positif atau negatif”; dll. (Sugiyono, 2006: 90).

No

Variabel

Definisi Operasional

Indikator

Alat Ukur

Skala

Skor

1.

Riwayat pola hidup pasien gagal ginjal kronik

Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya dalam menciptakan gaya hidup yang sehat.

Kemampuan responden dalam menjawab pertanyaan quesioner dengan benar cara gaya hidup yang sehat meliputi :

- Pengertian gaya hidup sehat

- Tujuan gaya hidup sehat

- Penyebab gaya hidup tidak sehat yang dapat menyebabkan gagal ginjal meliputi:

1. Diet tinggi protein yang dapat merusak ginjal

2. Mengkonsumsi obat bebas tanpa konsultasi dokter

3. Memakai beberapa bahan kimia seperti rokok.

Kuesioner

Ordinal

Dengan skor :

Ya = 1

Tidak = 0

Dengan hasil :

76 – 100% = Baik

56 – 75% = cukup

40 – 55% = Kurang baik

<40%>

1.6 Pengumpulan Data dan Analisa Data

1.6.1 Pengumpulan data

Proses pengumpulan data dimulai dengan mengurus surat perijinan studi pendahuluan dari kepla instansi Akademi Keperawatan RS Militer Kota Malang kemudian ke Kepala Ruang Hemodialisa RS Militer Malang.

Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner.kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya,atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto,2002:128)

Untuk menyebarkan kuosiner,terlebih dahulu peneliti mendata pasien gagal ginjal kronik. Penyebaran kuosioner ini dapat dilakukan dengan cara membagikkan kepada responden satu persatu sambil di terangkan tujuan dan maksudnya.Setelah itu,penelitian memberi penjelasan tentang maksud dan tujuan penelitian serta memberikan lembar persetujuan kepada pasien. Jika bersidia menjadi responden,pasien bisa menandatangani lmbar persetujuan tersebut dan segera mengisi kuosioner,namun jika responden menolak maka penilitian tidak akan memaksa dan menghormati hak pasien.

Pengisian kuesioner dilakukan dalam 2 tahap.Pertama,resptentang gagal ginjal selama 15 menit.Setelah diberi waktu istirahat sekitar 5 menit,responden harus mengisi kuosioner untuk pengumpulan data variabel indapanden yaitu tingkat pengetahuan pengetahuan klien Dimana responden tinggal membubuhkan tanda cek (√) pada kolom yang tersedia. diisi sendiri tidak boleh di bawa pulang dan tidak boleh di diskusikan.Jika setelah batas waktu yang di tentukan masih ada responden yang mengalami kesulitan dan belum selesai selesai mengisi kuesioner,peneliti memberikan tambahan waktu 5-10 menit yntuk menyelesaikan paengisian Setelah selesai angket dikumpulkan dan diperiksa kelengkapannya.

4.6.2 Instrument atau Alat Ukur

Instrument atau alat ukur adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam menyimpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis lebih mudah diolah (Alimul, 2003: 136).

Dalam penelitian instrument yang digunakan adalah angket atau kuesioner yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang dia ketahui (Arikunto, 1998: 40).

Penelitian ini menggunakan bentuk kuesioner atau angket tertutup, artinya angket disajikan dalam bentuk sedimikan rupa sehingga responden tinggal memberi tanda silang atau cek pada kolom atau tempat yang tersedia (Arikunto, 1998: 141).

Angket (kuesioner) berisi sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden. Cara pengisian angket dengan memberikan tanda (√) untuk memilih “ya atau tidak” terhadap statement yang disusun peneliti. Dan pertanyaan dalam kuesioner berjumlah 20 pertanyaan.

1.6.2 Analisa Data

1.Langkah-Langkah Analisis

a) Editing

Memeriksa kembali semua keusioner untuk mengecek apakah setiap keusioner telah diisi sesuai dengan petunjuk.

b) Coding

Memberi data code terhadap setiap pertanyaan untuk mempermudah pengadaan tabulasi dan analisa.

c) Scoring

Untuk mengklasifikasikan karakteristik berdasarkan umur, jenis kelamin, pekerjaan dan tingkat pendidikan pada data umum peneliti menggunakan rumus sebagai berikut :

åF

P = ¾ x 100%

N

Keterangan:

P = Prosentase

åF = Frekuensi jawaban responden

N = Jumlah responden (Sugiyono, 2006)

d) Setelah data terkumpul, data ditabulasi dan dikelompokkan sesuai dengan subvariabel yang diteliti. Setiap jawaban diberi skor atau penilaian sesuai dengan yang telah ditentukan. Selanjutnya dijumlahkan dan dibangdingkan dengan jumlah skor yang diharapkan lalu dikalikan 100%.

N = Sp/Sm x 100%

Keterangan :

N : Nilai yang didapat

Sp : Skor yang didapat

Sm : Skor yang diharapkan

Hasil pengolahan data berupa prosentase di interprestasikan dengan kriteria kualitatif:

76 – 100 %= Baik

56 – 75 % = Cukup Baik

40 – 55 % = kurang Baik

< style=""> = Tidak Baik (Arikunto, 2004: 246)

1.7 Etika Penelitian

1.7.1 Inform consent

Sebelumnya responden yang diteliti memberikan jawaban pada angka, para responden akan diberi penjelasan mengenai manfaat dan tujuan penelitian, selanjutnya responden diminta untuk menjadi partisipasi dalam penelitian ini. Setelah responden menandatangani surat perijinan maka responden diperbolehkan menjawab kuesioner yang diberikan oleh peneliti.

1.7.2 Anonimity

Anonimity adalah konsep penting lainnya yang berhubungan dengan perlindungan peserta dalam riset. Responden mempunyai hak untuk anonym (membunyikan nama) sepanjang proyek riset. Informasi yang berhubungan dengan peserta, kenyataan bahwa individu tertentu telah berpartisipasi dalam studi seharusnya tidak diberitahukan pada setiap orang luar tim riset.

1.7.3 Confidentialy

Kerahasiaan adalah memperhatikan bahwa peneliti akan menjaga semua catatan secara tertutup dan hanya orang-orang yang terlihat dalam penelitian ini yang dapat menggunakannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar